FLASHNEWS
Kamis, 16 Februari 2017 | 12:56:00 WIB | Dibaca : 743 Kali

Tak Ada Rotan Akar Pun Jadi

Tak Ada Rotan Akar Pun Jadi Teks foto:

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr Wb,

Tak ada rotan akar pun jadi. Begitu sebuah peribahasa mengajarkan.

Peribahasa itu pula yang “terpaksa” kami terapkan ketika menerima Eddy Suardi, Kasubid Internalisasi Nilai Sejarah, Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Jumat, 10 Februari 2017.

Maksud kedatangan beliau yang didampingi Iqbal, Wani dan Winda adalah “menawarkan” dua kegiatan dari Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, khususnya Bidang Internalisasi Nilai Sejarah yang akan dilaksanakan dan diharapkan “disambut baik” Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Kedua kegiatan dimaksud adalah;

Pertama, Internalisasi Nilai Kebangsaan di Wilayah Perbatasan.

Kegiatan yang akan diikuti sekitar 125 guru mata pelajaran Sejarah Nasional (tingkat SMA) dan guru bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial/IPS (SMP) dari seluruh Indonesia. Ke-125 guru dimaksud adalah guru terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia.

Sedangkan untuk Kabupaten Bengkalis, “jatah” peserta yang diberikan sebanyak 20 orang yang teknis penetapannya sepenuhnya diserahkan ke daerah ini.

Kegiatan yang biayanya ditanggung dari dana kegiatan Kemendikbud RI, direncanakan dilaksanakan 16-17 April 2017 mendatang. Kemudian, dari Bengkalis seluruh peserta akan langsung ke Negeri Jiran, Malaysia melalui pelabuhan Bandar Sri Setia Raja, Selat Baru, Kecamatan Bantan.

Berbagai kegiatan yang dilakukan selama peserta berada di Bengkalis, diantaranya mengunjug pusat-pusat sejarah, kebudayaan dan sentra ekonomi masyarakat. Termasuk tempat produksi makanan khas Bengkalis, Lempuk Durian.

Kedua, Pendidikan Karakter melalui Media.

Kegiatan kedua ini dilakukan melaui pemutaran film-film inspiratif alias nonton bareng (nobar) dengan peserta sekitar 750-1.000 orang untuk setiap kali pelaksanaan nobar. Tentunya dilakukan secara indoor (dalam ruangan).

Selain guru, adapun yang “pihak” disasar melalui kegiatan nobar dimaksud adalah pelajar kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar (SD) serta kelas 7 dan 8 untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Seperti kegiatan Internalisasi Nilai Kebangsaan di Wilayah Perbatasan, biaya pelaksanaannya berasal dari anggaran Kemendikbub RI. Pemerintah Kabupaten Bengkalis hanya memfasilitasi tempat penyelenggaraan.

Pada kegiatan pemutaran film dimaksud juga akan dihadirkan “film maker”, misalnya sutradara dan produser. Termasuk artis pendukungnya.

Namun berbeda dengan kegiatan Internalisasi Nilai Kebangsaan di Wilayah Perbatasan, waktu pelaksanaan nobar tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Maksudnya tidak mesti bersamaan dengan kegiatan Internalisasi Nilai Kebangsaan di Wilayah Perbatasan.

Itulah beberapa inti pertemuan dengan Kasubid Internalisasi Nilai Sejarah, Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud RI, tadi.

Sebenarnya sebelum pertemuan tadi, kepada teman-teman dari Dinas Pendidikan (Disdik), khususnya Kepala Bidang SD, Suwanto, Kepala Seksi SD Rozali dan uztas Awaluddin Hasibuan (staf Disdik), kami minta mereka membawa tamu dari Kemendikbud RI itu ke Asisten Administrasi Umum H TS Ilyas.

Kami arahkan ke sana, karena pada waktu apel pulang kantor, kemarin, mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bengkalis, ada di tempat.

“Tak ado, Pak Johan! Keluar daerah, baru saja berangkat. Sayo baru sebentar tadi menelepon stafnya. Jadi bagaimana? Bagaimana kalau bertemu Pak Johan saja,” jelas Awaluddin Hasibuan yang di facebook memakai nama Awal Hasibuan.

TAK ada rotan akar pun jadi. Tanpa pikir panjang, meskipun tak ada instruksi dari pimpinan, kami pun mengiyakan.

“Silahkan,” jawab kami.

Awalnya kami menduga yang datang hanya satu orang dan hanya pertemuan biasa. Jadi bisa diterima di ruang kerja kami. Tapi tenyata yang datang 4 orang dan ditambah 3 orang Aparatur Sipil Negara dari Disdik. Jadi 7 orang.

Karena ruang kerja kami daya tampungnya terbatas, kami pun memutuskan meminjam ruang pertemuan di dekat ruang Sekretaris Daerah.

Dengan didampingi Kasubag Peliputan dan Dokumentasi, Mas Adi Sutrisno dan Kasubbag Kehumasan Ombak Fadli Faren, Kasubbag Kelembagaan dan Analisa Jabatan Bagian Organisasi, Rahmad, serta sejumlah teman di Bagian Humas, kami menerima tamu dari Jakarta tersebut di ruang yang "dipinjam" itu.

Kepada Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan, Suwanto, kami minta untuk dapat menyampaikan rencana Kasubid Internalisasi Nilai Sejarah, Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kemendikbud RI tersebut kepada pimpinan (Bupati Bengkalis) dalam kesempatan pertama secara tertulis. Lebih-lebih kehadiran mereka telah diketahui Plt Kepala Disdik Bengkalis.

Apalagi pada bulan Maret 2017 mendatang, pihak dari Kasubid Internalisasi Nilai Sejarah tersebut akan datang kembali ke Bengkalis.

Tak ada rotan akar pun jadi. Memang itulah salah satu peribahasa yang kami sampaikan pada rombongan Eddy Suardi tadi.

Kemudian kami juga mohon maaf atas “ketidakyamanan” dalam penyambutan kami yang memang hanya sebagai “akar”, bukan “rotan”.

Selamat siang. Sukses selalu untuk kita semua.

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb

Bengkalis, Jumat, 10 Februari 2017.

 

Drs. Johansyah Syafri
Kabag Humas
 
Drs. Johansyah Syafri yang akrab disapa Johan, merupakan putra sulung dari tiga bersaudara buah pasangan A. Nuddin (Alm) dan Masrumin. Suami Sefniwita Idson yang lahir 11 April 1968 di Prabumulih, Kabupaten Muara Enim (Sumatera Selatan) ini memiliki dua orang anak, yaitu Muthi’ah Khairun Nisa dan Muhammad Rafif Albar.

Sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis, lulusan Program Studi Biologi FKIP Universitas Riau tahun 1991 ini adalah pegawai di BKKBN Kabupaten Bengkalis.

Johan yang pernah menjadi jurnalis ini, mulai menjadi ASN di Pemkab Bengkalis sebagai staf di Kantor Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga pada tahun 2001.

Pada tahun yang sama, pria yang memiliki motto hidup “Kata meskipun pahit didengar orang” ini mutasikan ke Bagian Humas Sekretariat Daerah Bengkalis sampai tahun 2010 sebagai salah satu Kepala Sub Bagian.

Setelah itu, sekitar tahun 2004, Syafri, begitu keluarga besarnya di tanah kelahirannya akrab memanggilnya, dipercaya sebagai Kepala Bagian, sampai tahun 2010.

Usai “docking” kurang lebih 6 bulan – istilah yang digunakannya untuk mengganti kata “non job” -- dia diamanahkan sebagai salah satu Kepala Bidang di Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

Menjelang akhir tahun 2014, tepatnya bulan Oktober 2014, Johan kembali dipercaya sebagai Kabag Humas untuk kedua kalinya, hingga sekarang.

“Catatan Kecil” ini merupakan tulisannya yang ditulisnya di sela-sela pelaksanaan tugas dan kewajibannya sehari-satu.

Tujuannya utamanya untuk memotivasi orang agar mau menulis. Khususnya teman-teman di Bagian Humas. Selain itu untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

 

Baca Juga
Tulis Komentar