FLASHNEWS
Kamis, 16 Februari 2017 | 12:59:00 WIB | Dibaca : 726 Kali

Hiduplah Seperti Jam Dinding

Hiduplah Seperti Jam Dinding Teks foto:

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr Wb,

Pentingnya manajemen waktu. Itulah tema bernas yang disajikan Muhammad Iqbal.

Bayu -- begitu “nama cumbu” atau “nama timang” putra kedua Bang Indra Jaya – mengupas hal itu ketika memberikan motivasi pada “internal meeting” yang ditaja Bagian Humas Sekretariat Daerah Bengkalis, Kamis, 9 Februari 2017, lalu.

Mengapa waktu perlu diatur sedemikian rupa sebagaimana dikatakan Bayu itu? Mengenai manfaatnya, dapat ditanya dan silahkan diskusinya dengannya. Bayu “pakar” betul tentang manfaat pentingnya manajemen waktu.

Sementara melalui “Catatan Kecil” ini kami ingin “mengulitinya” dari sisi lain. Tentunya, harapan kami apa yang ditulis ini ada manfaat yang bisa dipetik. Semoga dan selamat membacanya sampai tanda titik terakhir.

Imam Syafi’i pernah mendapatkan pelajaran dari orang sufi. Inti nasehat tersebut terdiri dari dua penggalan kalimat berikut:

“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

Sementara Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung.”

Dan, sambungnya, “Jika waktu yang sedikit itu yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.”

Memang, melalaikan waktu adalah suatu kebinasaan. Bisa jadi tanpa kita sadari waktu akan membunuh kita, jika kita lalai dengannya, karena waktu begitu cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali.

Waktu terus berlari tanpa henti. Waktu terus berputar tanpa kenal lelah dan waktu tidak menghiraukan apa yang ditinggalkannya.

Sedangkan Ibnu Abi Jamroh, berkata: “Potonglah waktu dengan perbuatanmu agar waktu tidak memotongmu”.

Memang, apabila kita tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya, maka kita akan binasa sebagaimana binasanya seseorang yang terkena sabetan pedang.

Sedangkan jika kita tidak segera menghindar dan melawannya maka pedang akan memotong dan mencabik-cabik kita, karena waktu bagaikan pedang yang membunuh.

Berbicara tentang waktu, satu yang pasti teringat oleh kita, yaitu penunjuk waktu. Tak lain dan tak bukan adalah jam atau arloji.

Tahukah kita kapan kata jam digunakan? Kata jam telah digunakan pada abad ke-14 sekitar 700 tahun yang lalu, yang berasal dari bahasa latin yaitu ‘clocca’.

Menurut catatan sejarah, sundial atau jam matahari merupakan jam tertua dalam peradaban manusia.
Jam ini dibuat seorang ahli Astronomi muslim bernama Ibnu al-Shatir sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi.

Jam ini menunjukan waktu berdasarkan letak matahari, dengan cara memanfaatkan bayangan yang menimpa permukaan datar.

Sedangkan penerapan kristal quartz pada alat pengukur waktu/jam dimulai tahun 1929. Jam digital/elektrik pertama kali dibuat perusahaan The Hamilton Watch Co of Lancaster, Pennsylvania sekitar tahun 1950.

Setelah itu, mulailah bermunculan beberapa merek dan model jam tangan hingga saat ini. Saat ini jam adalah salah satu “kebutuhan pokok” hampir setiap orang. Rasanya saat ini sulit ditemukan orang yang tak menggunakan jam tangan. Atau tak memiliki jam dinding di rumah.

Tahukah berapa harga jam tangan termahal? Berdasarkan sebuah literatur adalah Patek Philippe 5004T diproduksi mulai tahun 2013.

Jam artistik ini merupakan satu-satunya versi titanium terakhir yang diproduksi oleh produsen Patek Phipippe. Tampilan jam ini terlihat sangat sporty dengan kombinasi gaun 5004 seolah memberi kesan selamat tinggal pada koleksi jam konservatif.

Penjualan The 5004T dilakukan secara lelang pada tahun 2013, hasilnya ada orang yang mampu membelinya dengan harga sekitar USD3.985.000 atau sekitar Rp51,5 Miliar (USD1 = Rp13.000).

Bagi kami pribadi harga tersebut sangat luar biasa. Betapa tidak bila “dikonversikan” ke harga jam tangan yang kami miliki dan selalu pakai, dapat dibeli sebanyak 51.535 buah.

Atau bila dibelikan hari ini dan kami mulai memakai hari ini juga, maka untuk memakai kesemuanya dengan ketentuan satu hari satu, diperlukan waktu 141 tahun.

Berbicara tentang jam ini, di berbagai tempat umum biasanya dipasang jam dinding atau dalam bentuk lain. Misalnya di terminal, Bandara dan sebagainya.

Bahkan hampir di setiap kota yang memiliki tugu yang dijadikan “monument” atau ikon, selalu ada jam di sana. Kalau tugu tersebut empat sisi, di setiap sisinya ada jam dengan model dan merek yang sama.

Tahukah kita apa maksudnya? Jangankan orang awam, yang memasang jam di tempat-tempat tersebut bahkan juga tak tahu maknanya. Bahkan termasuk kita sendiri.

Kalaulah kita mau merenungkannya sejenak ada tunjuk ajar atau wejangan yang tersirat. Apa nasihat atau petuah dimaksud?

Adapun petuah dimaksud adalah dilihat orang atau tidak, ia tetap melangkah. Tetap berdetak. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar.

Walau tak seorang pun mengucapkan terima kasih, ia tetap bekerja. Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Seandainya jam itu bisa bicara, melalui detak, dan dengan putarannya itu, ia akan mengatakan: "Aku melakukannya karena ikhlas. Aku punya kualitas, komitmen, dan tanggung jawab."

Untuk itu, marilah kita memanfaatkan waktu dan kesempatan yang kita miliki untuk melakukan hal-hal yang produktif, sehingga tidak terbuang percuma.

Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang kita miliki karenanya selagi kita masih memilikinya kita harus mampu memanfaatkan sebaik-baikny.

Bagi yang seakidah, Nabi Muhammad SAW, bersabda, yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad).

Oleh sebab itu, mari kita itu manfaatkan 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara, yaitu:

Pertama, Waktu muda sebelum datangnya tua.

Kedua, waktu sehat sebelum datangnya sakit.

Ketiga, waktu kaya sebelum datangnya miskin.

Keempat, waktu luang sebelum datangnya sempit.

Kelima, waktu hidup sebelum datangnya mati.

Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW., bersabda yang artinya: “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya tentang 4 perkara, yaitu; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan ilmunya, apa yang diamalkannya.”

Memang, waktu lebih berharga dari pada emas. Jauh, jauh dan sangat jauh lebih berharga dari jam Patek Philippe 5004T seharga Rp51,5 milyar. Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.

Jadi wajar dan terima kasih yang setinggi-tingginya kami ucapkan buat Bayu yang telah memberikan motivasi bagi teman-teman di Bagian Humas dengan tajuk: “Pentingnya Manajemen Waktu”.

Dan, kita memang harus hidup seperti jam dinding, terus berbuat dan berbuat baik, meski tak ada orang yang menilainya. Is no problem.

Selamat pagi. Sukses selalu untuk kita semua.

Semoga bermanfaat!

Aamiin ya rabbal ‘alamin!

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb

Bengkalis, Sabtu, 11 Februari 2017.

 

Drs. Johansyah Syafri
Kabag Humas
 
Drs. Johansyah Syafri yang akrab disapa Johan, merupakan putra sulung dari tiga bersaudara buah pasangan A. Nuddin (Alm) dan Masrumin. Suami Sefniwita Idson yang lahir 11 April 1968 di Prabumulih, Kabupaten Muara Enim (Sumatera Selatan) ini memiliki dua orang anak, yaitu Muthi’ah Khairun Nisa dan Muhammad Rafif Albar.

Sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis, lulusan Program Studi Biologi FKIP Universitas Riau tahun 1991 ini adalah pegawai di BKKBN Kabupaten Bengkalis.

Johan yang pernah menjadi jurnalis ini, mulai menjadi ASN di Pemkab Bengkalis sebagai staf di Kantor Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga pada tahun 2001.

Pada tahun yang sama, pria yang memiliki motto hidup “Kata meskipun pahit didengar orang” ini mutasikan ke Bagian Humas Sekretariat Daerah Bengkalis sampai tahun 2010 sebagai salah satu Kepala Sub Bagian.

Setelah itu, sekitar tahun 2004, Syafri, begitu keluarga besarnya di tanah kelahirannya akrab memanggilnya, dipercaya sebagai Kepala Bagian, sampai tahun 2010.

Usai “docking” kurang lebih 6 bulan – istilah yang digunakannya untuk mengganti kata “non job” -- dia diamanahkan sebagai salah satu Kepala Bidang di Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

Menjelang akhir tahun 2014, tepatnya bulan Oktober 2014, Johan kembali dipercaya sebagai Kabag Humas untuk kedua kalinya, hingga sekarang.

“Catatan Kecil” ini merupakan tulisannya yang ditulisnya di sela-sela pelaksanaan tugas dan kewajibannya sehari-satu.

Tujuannya utamanya untuk memotivasi orang agar mau menulis. Khususnya teman-teman di Bagian Humas. Selain itu untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

 

Baca Juga
Tulis Komentar